Ingin ceritamu di posting di blog ini ? silahkan kirim ceritamu ke novalherdiana@gmail.com
Rabu, 06 November 2019
AWAL MASUK PESANTREN
Karya : Nisa Awalia Marwah
Pada hari minggu tepatnya pada tanggal 15 Juli 2017. Saya masuk Pesantren Murottatul Quran Al- Mubarok. Di sana saya mulai beradaptasi dengan teman-teman yang ada di sana. Awalnya saya merasa canggung ketika sedang berkumpul dengan mereka, setelah beberapa hari saya tidak canggung lagi untuk berbicara.
Hari senin pagi saya mulai berangkat ke Sekolah baru saya bersama teman-teman baru. Saya di sana bersama teman-teman mengikuti MPLS. Sambil beradaptasi dengan teman-teman yang ada di Sekolah, di sana saya sudah mulai memperkenalkan diri di hadapan teman-teman dan guru. Setelah itu satu persatu guru menyampaikan materinya kepada siswi-siswi yang ada di SMP Bahrul Ulum. Setelah jam sekolah selesai, saya kembali pulang ke Pesantren. Di sana saya beristirahat sejenak sambil menceritakan awal masuk sekolah tadi, setelah itu saya langsung mempersiapkan diri untuk mengikuti kegiatan mengaji di sana.
Setelah beberapa bulan saya tinggal di Pesantren, saya merasa tidak nyaman berada di sana. Saya selalu ingat kepada Ibu, setiap hari saya selalu gelisah ingin pulang ke Rumah. Saya selalu menelpon Ayah saya dan selalu meminta ingin pulang. Hampir setiap hari saya menangis, karena sudah tidak tahan dengan keadaan di sana.
Hari kamis malam Ayah saya menjemput ke Pesantren, setelah itu Ayah saya terus menerus menanya, "kenapa ingin pulang?". Saat itu saya hanya menjawab dengan tangisan. Akhirnya saya ikut pulang bersama Ayah saya, sesampainya di Rumah saya ditanya, "Kenapa ingin pulang?" Kata Ibu, saat itu juga saya tidak bisa menjawab. Saya terus menerus menangis, dan saya akhirnya memutuskan untuk pindah Pesantren dan Sekolah Ke MTs Budi Sartika dan Pesantren Tadris Al-Quran. Setelah saya pindah ke Pesantren baru, saya tidak merasa gelisah ingin pulang, karena sudah nyaman dan sudah menemukan teman-teman yang baik.
BAIK LUAR DALAM
Karya : Ade Sherly Sriwahyuni
Pada suatu hari, ada dua orang gadis bernama Rina dan Tina yang sedang mengerjakan tugas Sekolah di Rumah Rina, mereka mengerjakan dengan serius dan suasanapun sangat hening. Tak lama kemudian ada seorang perempuan dan dia juga sama temannya Rina sama Tina, dia bernama Tanisa, namun Tina seolah-olah tidak memperdulikan kehadiran Tanisa. Tak lama kemudian Rina meminta Tina untuk menemui Tanisa di Luar, kata Tinapun kepada Ibunya berkata, "Ibu bilang saja kalau aku lagi gak ada di Rumah!", Ibupun menjawab, "Loh kenapa Tin?, kok kamu gituh?", "Gak apa-apa kok Mah bilang saja gitu!" Kata Tina, Ibu menjawab, "Oh, ya udah".
Rinapun bertanya kepada Tina, "Tin, kenapa kamu begitu sama Tanisa?, kasian loh dia datang dari Rumahnya ke sini, dia anaknya baik Tin", (dengan agak kesal), "Dari luarnya memang kaya orang yang gak baik, tapi sebenarnya dia baik kok, masa kamu mengukur sikap seseorang hanya dari luar saja", "Ah Rin kamu gak tau sih, dia itu suka ngomongin orang lain dibelakang, bahkan suka menjelek-jelekan orang lain pokoknya banyak deh yang gak bisa aku bicarakan kepadamu Rin", "Tapi setidaknya kamu memiliki hati yang tulus Tin bukan dari sahabat dari luarnya baik tapi didalam busuk" Ujar Rina dengan baik-baik. "Yaudah, maaf seharusnya aku tidak melihat dari luarnya saja, jadi kita dalam berteman tidak boleh melihat seseorang dari luarnya saja, tetapi kenalilah hatinya yang paling dalam".
MALAS SEKOLAH
Karya : Ade Qisti Saufa
Minggu menjadi hari libur yang membuat orang malas melakukan aktivitas. Ada yang memilih berlibur, ada yang hanya berada di Rumah melepas lelah, setelah hari-hari sebelumnya penuh dengan aktivitas.
Begitu pula dengan Rima' dia memilih bersantai di Rumahnya. Sampai-sampai hari senin waktunya sekolah, Rima masih belum siap menghadapi aktivitas sekolah yang menurutnya membosankan.
"Rima, kamu belum berangkat ke Sekolah? Ini sudah siang looh, nanti telat," Tanya Ibunya
"Rima masih capek, bolos sehari saja tidak apa-apa, lagian tidak ada test dan PR." Jawab Rima
"Ya jangan begitu. Sekolah itu bayar, menuntut ilmu itu jangan sampai kamu sepelekan begitu saja." Jawab Ibunya
Melihat gelagat dari anaknya, Ibu menjadi kesal dan geram, terus membawa anaknya kesebuah tempat, keemudian Ibunya mengajak Rima kesuatu tempat yang ada di sana banyak anak-anak pengemis.
"Lihat mereka, mereka mengemis mencari uang, untuk makan saja, mereka harus bersusah payah, apalagi untuk biaya sekolah," jelas Ibunya memberi tahu anaknya. Kemudian Ibunya mengajak lagi kesuatu tempat, di sana dipenuhi oleh anak-anak dengan latar yang berbeda.
"Ini tempat apa Bu?" Tanya Rima
"Nah, lihat ini tempat anak-anak yang sudah tidak punya orang tua, yang membiayai sekolah, padahal mereka juga mau sekolah." Jelas Ibunya.
Kemudian Rima sadar, dan ia mau berangkat ke Sekolah meskipun ia terlambat. Ibunya mengantar Rima sampai ke Sekolah. Di dalam perjalanan menuju sekolah Rima melihat, anak sekolah yang berjalan pincang.
"Alangkah beruntungnya aku, masih memiliki fisik yang sempurna tapi bermalas-malasan untuk sekolah, sedangkan mereka yang cacat bisa semangat seperti itu." Gumamnya.
MENEMUKAN DOMPET
Karya : Dila Meilani
Sudah beberapa bulan aku menunggu panggilan kerja, rasanya hariku pilu dan bingung tanpa arah. Kerjaanku hanya luntang-lantung di Rumah. Bingung rasanya, ingin usaha tapi tidak punya modal. Suatu hari kuniatkan untuk mencari lowongan pekerjaan, barangkali ada perusahaan yang membutuhkan karyawan baru.
Saat aku berjalan di sudut jalan paling ujung trotoar, aku melihat dompet berwarna cokelat, kuhampiri dompet itu, kubuka dan kulihat isinya KTP, SIM dan beberapa kartu Tabungan yang isinya sangat fantastis. Dalam pikiranku muncul agar aku menggunakan isi dompet itu.
Tapi tidak, aku harus mengembalikkan dompet ini kepada pemiliknya. Tak selang beberapa lama ku kembalikan dompet itu. Bermodalkan KTP aku menemukan rumahnya, di Perumahan elit dekat dengan Hotel bintang lima. Ku tekan bel dan kemudian dibuka oleh pembantu yang bekerja di Rumah itu.
"Permisi bu, benarkah ini alamat pak Budi?"
"Iya benar, anda siapa?" Tanya pembantu itu. "Saya Andri, saya ingin bertemu dengan pak Budi, ada urusan penting"
"Baiklah, silahkan masuk kebetulan bapak ada di Rumah", Kata pembantu itu
Aku masuk dengan malu-malu ke Rumah megah Si Pemilik dompet yang kutemukan.
"Ada apa? Siapa kamu?" Tanya Pak Budi
"Saya Andri Pak, mohon Maaf sebelumnya, saya menemukan dompet Bapak di Trotoar dekat Hotel"
"Oh ya, silahkan duduk Nak!"
Aku duduk di dekat beliau dengan menyerahkan dompet yang kutemukan tadi.
"Kamu tinggal di mana dan kerja apa Nak?" Tanya beliau dengan penasaran,
"Di Komplek Indah Sari Pak, saya masih menganggur Pak, sudah ke mana-mana saya melamar pekerjaan tetapi belum dapat panggilan", Jawabku
"Kau sarjana apa?", Tanyanya
"Sarjana Ekonomi Manajemen Pak", Jawabku
"Oh baiklah Nak, di Perusahaan Bappak sedang membutuhkan stap Administrasi, barangkali jika kamu tertarik bisa datang ke Kantor saya besok pagi jam 9. Ini kartu nama saya", Sambil menyodorkan kartu namanya kepadaku.
"Sungguh pak?"
"Iya Nak, saya membutuhkan karyawan jujur seperti dirimu"
"Iya Pak, besok pagi saya akan datang ke Perusahaan Bapak"
"Iya Nak, saya tunggu besok"
"Baik Pak, kalau begitu saya permisi pulang dulu", Kataku
"Iya Nak, silahkan hati-hati di jalan." Jawabnya
Aku sangat senang bisa mendapatkan pekerjaan tanpa disengaja, di bagian Staf Administrasi pula, ingin rasanya aku loncat-loncat sambil berteriak saking bahagianya.
ANAK DURHAKA KEPADA ORANG TUA
Karya : Yayat Hidayat
Suatu ketika ada seorang anak yang bernama Pandi, ia selalu menyusahkan Ibunya. Pada waktu ketika ia disuruh Ibunya untuk membeli gula, tapi Pandi malah menolak, karena malas untuk perginya. Dia lebih mementingkan melihat HP daripada nurutin kata Ibunya, tetapi Ibu Pandi tetap sabar, walaupun ia dibentak-bentak oleh Pandi.
Semakin lama Pandi selalu menyuruh Ibunya mengambil makanan maupun minuman. Ibunya dianggap oleh dia seolah seperti pembantu oleh Pandi. Pandi semakin berkuasa kepada Ibunya karena Ayah Pandi sudah wafat 3 tahun yang lalu. Ibu harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, terutama Pandi. Ibu selalu menangis dengan perlakuan Pandi kepadanya.
Pandi keluar dari Kamarnya dan ia berkata, "Bu, minta uang dong!"
"Buat apa nak?" Kata Ibu, "Minta saja, kalau gak mau ngasih ya gak apa-apa, dasar pelit." tiba-tiba Pandi naik motor dan pergi bersama teman-temannya, sesudah sampai di Tempat ngumpul, ia dihina sama teman-temannya yang mempunyai HP canggih, sedangkan ia hanya mempunyai HP biasa-biasa saja. Pandipun marah karena dihina temannya. Ia langsung pulang dan sesampainya di Rumah, ia menendang pintu rumah dan berkata, "Bu, aku ingin beli HP yang lebih canggih dari HP ini"
"Emang HP ini kurang bagus Nak?" kata Ibu, "Iya Bu, aku ingin HP yang lebih canggih,"
"Tapi, Nak Ibu sedang tidak punya uang," kata Ibu. "Pokoknya aku gak mau, pengennya punya HP yang lebih canggih daripada ini " kata Pandi. "Iya Nak, akan Ibu usahakan," Kata Ibu.
Pandi menjawab, "Nah, gitu dong kan aku gak bakalan dihina lagi."
Ibupun bingung harus darimana ia mendapatkan uang untuk membelikan HP anaknya. Ibu terpaksa harus menjual rumahnya, karen itu adalah satu-satunya harta benda yang ia miliki. Ibupun langsung menjual rumahnya dan membelikkan HP yang canggih. Sesudah dibelikan HP canggih oleh Ibunya. Pandi pulang Ke Rumah dan di Rumahnya banyak orang. Pandi, "Ada apa ini?"
Orang yang di Rumah Pandi, "Rumah ini sudah saya beli,"
"Siapa yang menjualnya?" kata Pandi
"Ibu kamu."
Pandi dan Ibunya pindah ke Rumah yang banyak debu, Pandi tidak sudi tinggal di Rumah yang sekarang. Ia menampar Ibunya dan menonjok, karena Rumah pemberian Ayahnya dijual. Ibupun lari kehutan dan memohon kepada batu yang dipercaya batu kutukan. Pandi mengejar Ibunya sambil membawa pisau, karena dia ingin membunuh Ibunya. Saat ia berlari, ia terpeleset kejurang yang dalam, dan tertimpa batu yang dimohon Ibunya.
PERTEMANAN SQUAD KELAS IX B
Karya : Reini Febriani
Teman adalah segalanya, karena dengan teman kita bisa meminta pertolongan, dan kita adalah manusia biasa yang tidak bisa hidup tanpa orang lain. Kita itu hidup berdampingan, walaupun ada cacian dan fitnahan, ada kesalah pahaman di antara pertemanan, tapi jika kita menjalani itu semua dengan hati yang ikhlas dan menganggap semua itu hanyalah masalah yang biasa terjadi di antara pertemanan, pasti masalah itu cepat berlalu, dan tidak akan menimbulkan pertengkaran yang serius.
Di saat lagi ada masalah yang membuat perasaan kita hancur/sedih, tapi ketika sudah bertemu dengan teman-teman di Sekolah, perasaan itu tidak akan terasa, karena kebersamaan dengan teman adalah hal yang paling menyenangkan sebab, sikap kekonyolan yang diperlihatkan dan canda tawa yang selalu dilontarkan membuat kita lupa, membuat kita lupa bahwa kita punya masalah. Meskipun mereka tidak tahu seperti apa perasaan kita saat itu gimana.
Aku teringat kisah kita (IX-B) saat ada perlombaan kebersihan kelas dan kelas paling kreatif. Waktu merayakan hari kemerdekaan Indonesia. Hari itu adalah Hari Rabu, persiapan untuk melakukan pendekoran kelaspun dimulai, sesudah pulang Sekolah pukul 14.25 WIB. Kami bekerja sama membagi tugas masing-masing. Hingga akhirnya waktu menunjukkan pukul 16.30 WIB, kamipun memutuskan untuk melanjutkannya sesudah Shalat Magrib, karena saya tidak punya kendaraan. Saya dijemput teman yaitu Delia, kemudian memanggil yang lain agar cepat berkumpul di Sekolah, karena siswa kelas IX B, tidak semuanya di Rumah, ada yang tinggal di Pesantren dan yang di Rumahpun tidak mendapatkan Ijin, jadi yang ke Sekolah tidak semuanya hadir, yang hadir hanya beberapa orang saja, yaitu Saya (Reini), Delia, Reina, Siti, Ilham, Feri, Noval, Alif, Saepulloh, David (Tinggal di Pesantren, tapi dipaksa untuk tidak ikut ngaji 😂). Satrio datanya pas malam karena iktu mengaji.
Setelah semuanya hadir, kamipun mulai mengerjakan tugas masing-masing. Saya, Reina dan David membuat Graviti dan Gambar Minion di Tembok bagian belakang dalam kelas. Delia dan Siti membuat kerajinan dari kertas layangan, kertas Origami dan balon huruf, karena ada barang yang tertinggal, Reinapun pulang ke Rumah untuk mengambil kuas bersama David. Akhirnya yang melanjutkan gravitinya saya sendiri, sementara yang lain bantu-bantu jika ada kekurangan. Saya dan yang lain menunggun Reina yang tak kunjung datang, karena mereka pergi hampir 2 jam. Setelah lama menunggu akhirnya merekapun datang. Saya dan teman-teman langsung bertanya,
Saya, "Kalian darimana saja?, kok lama banget?"
Reinapun menjawab, "Saya dari Rumah, saya lama karena saya mencari kuas tida ketemu-ketemu, selain itu saya kembali ke sini lewat jalan lain, tapi malah lebih jauh."
Sedangkan David hanya tersenyum-senyum
Delia bertanya, "Jalan Cipisitan bukan?"
Reina menjawab, "Ya, jalannya sepi, kebanyakan setiap pinggir jalan kebun semua, pokoknya serem banget,"
Siti tertawa, "Hahaha,,,, untung kalian gak kenapa-napa,"
Reina, "Iya, tapi kan serem," Sambil ketakutan.
Selama saya membuat graviti, teman-teman yang lain membuat dekorasi kelasnya seperti menempelkan Runtaian kertas layangan yang sudah disambungkan, terus menempelkan kertas Origami yang sudah dibentuk dan menempelkan balon huruf agar terlihat lebih menarik. Setelah itu graviti yang sudah selesai diberi warna, tak lupa beserta gambar minionnya, karena dekorasinya memerlukan waktu yang lama, kami sampai bergadang dari jam 18.30 WIB sampai jam 02.00 WIB, tapi itu semua kenanganku dan teman-teman yang tak terlupakan dan terindah dari kenang-kenangan yang lain. Sampai akhirnya Bapak dan Ibu Guru mengumumkan bahwa kelas IX-B adalah kelas yang paling bersih dan paling kreatif dan berhasil mendapatkan Juara Pertama.
Nah, itulah sedikit kisah pertemananku dengan kawan-kawan saat mengikuti perlombaan sekolah, dan menceritakan sebuah pertemanan kelas IX-B yang penuh suka ataupun duka, kebersamaan, dan sikap bergotong-royong.
Jadi, kita tidak bisa hidup tanpa adanya teman, dan tanpa adanya pertemanan hidup kita, seakan-akan hampa dan tidak bersemangat, dan seorang teman tidak akan melakukan hal bodoh sendirian tanpa dengan teman-teman yang lainnya.
PUTIH BIRU TUA MENUJU PUTIH ABU-ABU
Karya : Fathya Nabila
Pada pagi hari di awal musim panas dan hembusan pagi yang sangat menyentuh hangat tubuhku. Pagi adalah hari pertamaku Sekolah di MTs Budi Sartika. Aku adalah anak pindahan dari SMP dan telah menjadi salah satu siswa di MTs. Aku berangkat bersama temanku yang bernama Siti, setibanya di sana akupun menuju kelas baruku dengan senyuman yang agak bingung, terpampang pada wajahku ini menyapa teman yang sedang piket. Kebetulan itu hari senin dan yang lain sedang mempersiapkan diri menjadi petugas upacara.
Pada saaat di kelas aku harus memperkenalkan diri, terus aku berdiri, "Hai namaku Fathya Nabila" Ucapku dengan malu. Sewaktu memulai pelajaran aku mulai agak bingung karena belum terbiasa dengan pelajaran yang sedang dipelajari. Sudah beberapa bulan dan sudah banyak pelajaran yang dipahami, dan bertemu dengan tanggal di mana tanggal itu merupakan detik-detik ulangan akhir semester dan kebetulan itu hari di mana nyontek dosa dan gak nyontek gak bisa, gak fokus sama sekali soalnya belum sarapan jam 6 pagi. Setelah seminggu ulangan teman-teman berencana untuk buka puasa di Rumahku, meski tidak banyak yang datang tapi sangat bahagia. Sesudah makan tiba-tiba Sherly melihat Kakakku yang biasa dipanggil Caca "Itu Kakak kamu ya?, wah kakak kamu baik sekali," Ujar Sherly. " iya dia kakakku, baik gimana? Dia juga manusia biasa" Ucapku (Sambil tersenyum dan menyuguhkan makanan dan minuman). perut merekapun sudah merasa kenyang, setelah kenyang mereka membantuku mencuci piring. Sudah berjam-jam menghabiskan waktu di Rumahku, merekapun berpamitan untuk pulang.
Tak terasa aku telah menjadi anak kelas 9, yang nantinya akan lulus dan menjadi alumni MTs Budi Sartika. Ujian sekolah telah mendekatiku. Mengejarky dengan Ujian Nasional dalam hati "Wah aku harus bisa, dengan belajar keras pasti tidak akan menghianati, inilah aku apa adanya dan harus bisa menghadapi ujian ini".
Pada pagi hari di awal musim panas dan hembusan pagi yang sangat menyentuh hangat tubuhku. Pagi adalah hari pertamaku Sekolah di MTs Budi Sartika. Aku adalah anak pindahan dari SMP dan telah menjadi salah satu siswa di MTs. Aku berangkat bersama temanku yang bernama Siti, setibanya di sana akupun menuju kelas baruku dengan senyuman yang agak bingung, terpampang pada wajahku ini menyapa teman yang sedang piket. Kebetulan itu hari senin dan yang lain sedang mempersiapkan diri menjadi petugas upacara.
Pada saaat di kelas aku harus memperkenalkan diri, terus aku berdiri, "Hai namaku Fathya Nabila" Ucapku dengan malu. Sewaktu memulai pelajaran aku mulai agak bingung karena belum terbiasa dengan pelajaran yang sedang dipelajari. Sudah beberapa bulan dan sudah banyak pelajaran yang dipahami, dan bertemu dengan tanggal di mana tanggal itu merupakan detik-detik ulangan akhir semester dan kebetulan itu hari di mana nyontek dosa dan gak nyontek gak bisa, gak fokus sama sekali soalnya belum sarapan jam 6 pagi. Setelah seminggu ulangan teman-teman berencana untuk buka puasa di Rumahku, meski tidak banyak yang datang tapi sangat bahagia. Sesudah makan tiba-tiba Sherly melihat Kakakku yang biasa dipanggil Caca "Itu Kakak kamu ya?, wah kakak kamu baik sekali," Ujar Sherly. " iya dia kakakku, baik gimana? Dia juga manusia biasa" Ucapku (Sambil tersenyum dan menyuguhkan makanan dan minuman). perut merekapun sudah merasa kenyang, setelah kenyang mereka membantuku mencuci piring. Sudah berjam-jam menghabiskan waktu di Rumahku, merekapun berpamitan untuk pulang.
Tak terasa aku telah menjadi anak kelas 9, yang nantinya akan lulus dan menjadi alumni MTs Budi Sartika. Ujian sekolah telah mendekatiku. Mengejarky dengan Ujian Nasional dalam hati "Wah aku harus bisa, dengan belajar keras pasti tidak akan menghianati, inilah aku apa adanya dan harus bisa menghadapi ujian ini".
Langganan:
Postingan (Atom)






